Natal di Mataku

“Natal di Mataku, Natal Untuk Semua”

Sahabat, bagi kita, Natal bisa memiliki banyak arti. Bagi sebagian besar dari kita, Natal mungkin berarti waktu kumpul dengan keluarga. Bagi Saya pribadi, mendengar kata Natal membuat Saya teringat akan pohon natal, kue-kue, makanan yang enak, dan tentunya “quality time” bersama orang-orang terkasih.

Begitu terbuainya kita dengan “Natal” yang ada dipikiran kita, kita kadang lupa kepada orang-orang sekitar kita yang tidak merayakannya. Kita jadi terbuai dan seakan tidak peduli, sehingga terkadang menjadi tidak memiliki toleransi.

Sahabat, menjelang Natal tahun ini Saya ingin mengajak Sahabat untuk merenungi apa sih yang sudah kita lakukan menyambut kelahiran-Nya? Mungkin kita sudah mulai menghias pohon natal, sudah mulai berbelanja kebutuhan Natal, membeli baju baru, membeli hadiah untuk keluarga dan sahabat, merencanakan liburan, dan sibuk mempersiapkan perayaan Natal di gereja, entah sebagai panitia, pengisi acara, atau pemusik.

“Kesibukan” persiapan Natal kita membuat kita lupa bahwa Dia, yang kelahiran-Nya kita rayakan, lahir untuk setiap orang tanpa terkecuali. “[Natal menjadi] lebih bagus lagi jika bisa berbagi kepada yang lain”, begitu kata Ahmad Taufik. Beliau, yang juga adalah seorang wartawan sebuah majalah berita nasional terkemuka, menambahkan bahwa bukannya sahabat Nasrani kurang berbagi, hanya saja biasanya kalau agak menengah ke bawah lebih berbagi ke sesama. Nah, di sini secara tersirat dapat kita baca, semakin makmur seorang Kristen, maka semakin kecil rasa kepedulian terhadap sesama. Uhm, itu pandangan seorang Ahmad Taufik, bagaimana dengan kawan nonKristen lainnya ya? Sedemikian tak tahu dirikah orang Kristen? Diberi berlimpah oleh Sang Ilahi, tapi tak berbagi, hanya untuk diri sendiri…

Dan pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” rasanya kita semua sudah tau jawabannya, bukan? [Mari kita renungkan Lukas 10:29-37]

Sahabat, Dia tidak pernah menuntut kita untuk mendirikan pohon natal setiap bulan Desember ataupun mengharuskan kita memakai baju baru setiap tanggal 25 Desember. Dia meminta kita memberi-Nya hadiah berupa perhatian atau kepedulian terhadap sesama kita karena “Sesungguhnya segala seuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Semoga Natal kita tahun ini menjadi lebih bermakna. Karena Christmas isn’t Christmas, ‘till it happens in our heart….. Mari kita bagi hati kita buat sesama….

Tuhan memberkati!

Th

[Ditulis untuk FHL Vol. 02, Desember 2008]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s