Sahabat Yang Tersisih

Ketika kecil, aku memiliki seorang sahabat. Ia seorang teman yang baik dan kami pun selalu bersama. Sayangnya, kebersamaan kami hanyalah sebatas di Sekolah Minggu saja. Ketika di sekolah, kami bukanlah teman yang dekat bahkan hampir tidak berbicara satu sama lain.

Sekolahku itu merupakan sekolah Kristen yang siswa-siswinya rata-rata dari keluarga berada. Kebetulan aku berteman dengan kelompok siswi yang populer. Mereka tidak terlalu suka dengan temanku itu karena dia agak berbeda. Oleh sebab itu, aku seperti tidak bisa berteman dengannya di sekolah.

Pada hari Minggu, keadaan menjadi berbeda. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kami duduk bersama, belajar bersama, dan bermain bersama. Saat kami bersama, semua terlihat menyenangkan dan kami sangat gembira.

Saat itu pun aku tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Ada ganjalan yang terasa di hatiku, tetapi aku menghiraukannya.

Sobat FHL, pernahkah hal tersebut kalian alami? Sebagai seseorang yang sudah tumbuh menjadi pemuda, aku mengakui kadang aku pun masih melakukan hal itu. Sadar ataupun tidak, kita ingin “masuk” ke lingkungan pergaulan yang kita anggap “layak”. Kita memilih dengan siapa kita berteman. Kita bahkan menilai orang lain secara “dangkal” dan tidak adil.

Sebagai pemuda Kristen, sudahkah Sobat memancarkan kasih dalam pergaulan? Menerima setiap orang dengan tangan terbuka? Menjadi teladan bagi sesama?

Pertanyaan tersebut dapat kita renungkan bersama. Tuhan Yesus yang menjadi teladan kita telah banyak mengajarkan kita bagaimana melakukannya. Ia menerima 5000 orang yang datang kepada-Nya dan memberi mereka makan dengan tidak memandang pangkat dan kekayaan. Ia menyembuhkan orang yang sakit, menerima pendosa, dan mendatangi yang terbuang dengan tangan terbuka. Dia melakukannya tanpa pernah memilih-milih!

Lalu, siapakah kita sehingga kita menyisihkan teman sekantor kita, teman sepelayanan kita, atau teman sekelas kita hanya karena mereka berbeda? Sobat, mari kita membuka tangan dan hati kita untuk sesama. Mari mulai menebarkan kasih ke sekeliling kita sehingga hanya nama Tuhan Yesus yang dimuliakan melalui sikap dan pergaulan kita.

Tuhan memberkati.

FHL/th

[Ditulis untuk FHL Vol. 5, Oktober 2009]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s