Manja

Sewaktu merencanakan judul Klinik FHL ini aku merenung: sikap manja seperti apa ya yang ada dan melekat di pemuda Kristen? Kalau berbicara tentang “manja” pikiran kita cenderung langsung beralih pada seorang anak kecil yang merengek pada orang tuanya. Entah minta mainan, makanan, atau sekadar mencari perhatian. Manja identik dengan sikap anak kecil. Mari kita telusuri keseharian kita. Masih adakah manja dalam diri kita?

Pernahkah Sobat mengeluh seperti ini: kantor kok sistemnya ga bener? Telepon pake HP pribadi untuk kebutuhan kantor kok ga diganti? Asuransi kesehatan kok ga ada? Lembur kok ga dibayar? Ini kok begitu, itu kok begini?

Aku pernah. Lalu aku tersadar itu adalah sifat manja. Mengapa? Perusahaan tempat kita mencari nafkah bukanlah perusahaan yang sempurna. Banyak kekurangan diantara sedikitnya kelebihan yang mungkin bisa kita temui. Let’s face it, tidak semua perusahaan se-bonafide Google. Bahkan perusahaan yang berskala internasional seperti tempat aku bekerja sekarang pun ada kekurangannya. Bukannya mengeluh dan mengeluh atas banyaknya kekurangan, sudah sepantasnya kita sebagai anak-anak Tuhan malah berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Memang kita bukanlah Superman yang bisa melakukan semua. Tetapi kita ada disini, ditempatkan oleh Tuhan di perusahaan ini untuk berkarya bukan mengeluh (renungkan Yeremia 29:7).

Seorang anak akan merengek bila keadaannya tidak menyenangkan bagi dia. Entah bantal kesayangannya diganti, jatah nonton TVnya dikurangi karena nakal, atau tidak boleh makan permen ketika batuk. Tetapi kita, sebagai seorang pemuda Kristen, seharusnya bisa lebih baik dari itu. Mengeluh dan merengek bukanlah sifat yang Tuhan ajarkan kepada kita. Malah seharusnya kita menjadi garam dan terang di lingkungan kita.

Lalu bagaimana dengan di gereja?

Sobat mungkin pernah melihat salah seorang aktivis gereja meributkan soal kebersihan gereja tapi tidak berbuat apa-apa. Atau Sobat pernah tau ada seorang jemaat yang maunya dilayani terus. Ini kurang, dia ribut. Itu kurang, dia ribut. Atau jangan-jangan kita pun pernah melakukannya?

Sobat, aku pun berintrospeksi apakah aku anak Tuhan yang manja? Gereja merupakan rumah kita. Kalau ada yang kotor, sebaiknya tangan kita yang bekerja. Kalau ada yang kurang, berikan waktu kita untuk bantu membenahinya. Kalau ada saudara yang berselisih, sudah tugas kita untuk mendamaikan mereka.

Bukankah itu yang kita lakukan di rumah kita? Membersihkan yang kotor, merapihkan yang berantakan, dan mendamaikan yang bertikai. Ataukah kita anak manja yang bisanya hanya berteriak ‘Bi Inaaahhh…!!!!’

Selamat merenung. Tuhan memberkati. FHL/th

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…” (Markus 10:45).

[Ditulis untuk FHL Vol. 6, Desember 2009]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s