Hidup Untuk Memilih

Setiap orang menemukan berbagai pilihan selama hidupnya. Bersekolah di mana, mengambil kuliah jurusan apa, kerja di mana, dan sebagainya. Orang lain kadang menghakimi apa yang kita pilih. Jurusan yang kita ambil, perusahaan tempat kita bekerja, hingga profesi yang kita pilih seringkali dibanding-bandingkan. Contoh mudahnya profesi dokter lebih dipandang daripada profesi perawat. Padahal, masalahnya bukanlah pada apa profesinya tetapi bagaimana kita menjalankannya.

Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan tidak pernah menyebutkan talenta apa yang Ia berikan kepada ketiga hamba-Nya. Yang Ia tekankan adalah bagaimana para hambanya memanfaatkan talenta yang diberikan kepada mereka. Lalu, bagaimana Sobat memanfaatkan talenta Sobat?

Melayani Tuhan dengan talenta yang kita miliki merupakan pilihan kita. Bagiku, itu merupakan sebuah bentuk ungkapan syukurku kepada Dia yang sudah mengaruniakan talenta yang luar biasa ini. Sobat pun memiliki pilihan itu.

Di satu sisi, melayani bisa dilihat dari beragam cara dan lokasinya. Melayani bisa dilakukan di rumah, di sekolah, di kantor, dan di gereja. Jika melakukan sesuatu untuk Tuhan, itu sudah dapat dikatakan ‘melayani’. Melayani di rumah, di sekolah, atau di kantor bagiku adalah sudah sepatutnya dilakukan oleh orang percaya. Mengapa? Karena setiap individu hidup di lingkungan tersebut. Di mana pun kita ditempatkan, di situ pula kita ditugaskan untuk melayani.

Celakanya, karena sudah merasa melayani di rumah, sekolah, dan kantor, anak-anak Tuhan merasa tidak perlu lagi melayani di gereja. Anak muda Kristen seringkali berkata, “Toh melayani di mana saja sama saja. Di rumah ataupun di kantor ‘kan juga bisa melayani.” Bisakah Sobat bayangkan bila setiap orang Kristen berpikir serupa? Tidak akan ada gereja karena tidak ada lagi orang yang mau melayani di gereja. Tidak ada lagi persekutuan orang Kristen karena semua orang Kristen sibuk dengan keluarga, dengan pendidikan, atau dengan pekerjaannya di kantor.

Sadarkah Sobat bahwa itulah yang terjadi di gereja kita? Regenerasi di tiap komisi makin sulit setiap tahunnya. Jumlah anggota yang aktif pun semakin berkurang. Bila saat ini, yang memiliki talenta di bidang grafis menolak membantu publikasi, apakah akan ada spanduk yang terpasang di tiap perayaan? Bila ahli foto menolak untuk berkorban meminjamkan keahlian fotografi dan peralatannya yang canggih untuk gereja, apakah akan ada dokumentasi yang layak untuk kita kenang?

Setiap talenta itu baik. Jumlahnya tentu tidak menjadi masalah. Permasalahannya adalah bagaimana kita mempergunakannya. Untuk diri sendirikah? Atau kita persembahkan kembali kepada Tuhan dengan cara melayani jemaat-Nya?

Di masa raya pra-Paskah ini kita kembali diingatkan bahwa Tuhan juga telah berkorban untuk kita. Bahkan jauh sebelum kita ada. Ia mengorbankan tidak hanya hidup-Nya, tetapi juga hingga mengalami penyiksaan sampai mati dengan cara yang amat hina. Yang Ia minta dari kita hanyalah waktu, tenaga, dan pikiran. Juga, sebentuk hati untuk melayani jemaat dan membangun persekutuan di gereja-Nya.

Maukah Sobat melakukannya?

Selamat Paskah. Selamat berkorban. Tuhan memberkati. FHL/th

[Ditulis untuk FHL Vol. 7, Maret 2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s