Bersyukur karena Diberkati, Diberkati karena Bersyukur

Rasa bahagia erat hubungannya dengan rasa syukur. Jika kita perhatikan lingkungan sekitar kita, orang yang kurang bisa mengucap syukur cenderung tidak bahagia. Mereka mungkin terlihat senang. Tapi lebih banyak menggerutu, mengeluh, iri, atau mudah kesal. Sebaliknya sekurang-kurangnya seseorang baik dalam keuangan ataupun karir, bila ia bersyukur, ia akan bahagia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, syukur adalah rasa terima kasih kepada Allah. Aku pernah diceritakan sebuah kisah. Ada dua orang yang terbaring bersebelahan di rumah sakit. Mereka berdua mengalami penyakit yang sama, sama-sama dioperasi, dan sama-sama sembuh. Orang pertama merupakan seorang ateis sehingga setelah sembuh ia merasa itu adalah hal yang wajar karena dokter yang menanganinya adalah dokter terbaik. Sedangkan orang kedua segera mengucap syukur pada Tuhan dan menceritakan perihal kesembuhannya kepada seluruh kerabatnya. Ia merasa Tuhan menjamah tangan dokter yang mengobati dan bahwa kesembuhannya adalah mujizat dan karena kasih karunia Tuhan semata.

Dari hal diatas kita bisa belajar beberapa hal. Pertama, yang terpenting bukanlah kesembuhannya tetapi bagaimana orang kedua menanggapi kesembuhan yang merupakan pemberian Tuhan itu. Tuhan bisa memberikan kesembuhan kepada orang pertama seperti Ia memberi kesembuhan pada orang kedua. Ia tahu bahwa dengan memberikan kesembuhan pada orang pertama Ia tidak akan mendapatkan rasa syukur yang Ia layak dapatkan dan itu adalah hak-Nya. Kedua, bahwa kasih karunia yang Tuhan berikan membuat orang kedua bersyukur, memuji Tuhan, dan bersaksi. Sehingga ia membagikan berkat yang diterimanya kepada orang lain.

Saat ini kita setidaknya memiliki dua alasan untuk bersyukur. Kemerdekaan yang Tuhan berikan pada bangsa ini 66 tahun lalu adalah hal yang luar biasa. Mungkin kita tidak sadar karena generasi kita ada di zaman yang serba mudah. Apapun yang kita mau, ada. Tapi coba deh kita renungkan lagi. Kalau dulu kita tidak merdeka, jadi apa kita sekarang?

Tidak terasa juga ternyata GKI Kebayoran Baru, gereja kita tercinta ini, sudah hampir berusia setengah abad. Baik yang sudah dari lahir bergereja disini, maupun yang baru bergabung, apa saja yang sudah kita lakukan sebagai wujud syukur kita? Betapa bersyukurnya kita bisa bergereja dengan damai di sini. Terbayangkah bila kita harus mengalami tantangan pengusiran, penutupan, dan penggusuran gereja?

Ayo Sobat FHL, kalau selama ini baik dalam bermasyarakat dan bergereja kita belum bersyukur, belum mewujudkan syukur kita, belum berbagi berkat, ini saat yang tepat. Kita yang menentukan ingin jadi pemuda yang seperti apa, seperti orang pertama atau seperti orang kedua?

Selamat bersyukur. Tuhan memberkati.

[Ditulis untuk FHL]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s