Pengharapan

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” – Roma 5:5

Pemilu telah berakhir dan ketika saya menuliskan tulisan ini, saya berada di penghujung tanggal 17 April, ketika seluruh rakyat Indonesia dengan setia menantikan hasil perhitungan suara baik dari quick count maupun KPU.

Dalam beberapa hari terakhir saya memperhatikan beberapa teman, terutama teman-teman beragama Kristen ataupun Katolik, yang dengan vokal berkampanye untuk memilih calon pasangan tertentu, anti-golput, hingga menyebarkan banyak informasi tentang cara memilih. Walau demikian, saya menangkap secara jelas ataupun tersirat bahwa mereka khawatir tentang proses dan hasilnya. Pesimis dan apatis adalah kata-kata yang sering saya dengar.

Sebagai manusia – dan saya pribadi sangat mengerti perasaan ini – sangat manusiawi memiliki excitement yang begitu tinggi tetapi di sisi lain memiliki pengharapan yang sangat rendah. Mengapa? Salah satunya karena masa depan bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan dan pengharapan kita bukan kepada Tuhan Yesus.

Di masa pra-Paska ini saya mengalami perubahan luar biasa ketika saya, yang turun temurun sudah beragama Kristen, akhirnya dengan sepenuh hati memberikan kendali hidup saya kepada Tuhan Yesus. Saya yang selama ini membaca Alkitab dan ke gereja hanya karena kebiasaan – malah sering kali sulit berdoa – diubahkan Tuhan ketika saya berserah dan menaruh pengharapan akan janji-Nya untuk memulihkan diri saya, keluarga saya, dan meneguhkan panggilan saya untuk melayani dan menjadi saluran berkat-Nya.

Saya belajar arti pengharapan yang sesungguhnya bahwa ketika kita beriman, kita percaya dan menyerahkan seluruhnya pada Tuhan – apapun yang terjadi – Dia akan menyertai kita.

Di malam pemilu, saya membagikan 3 ayat kepada teman-teman di akun Instagram saya dan saya yakin kita semua sudah pernah mendengarnya.

“Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.” – Amsal 16:33

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” – Filipi 4:6

Tetaplah berdoa.” – Tesalonika 5:17

Di doa saya, tentu saya menyatakan kepada Tuhan bahwa saya mengharapkan pilihan saya menang. Tetapi saya menyerahkan sepenuhnya kepada Dia, Yang Berdaulat, bahwa siapapun yang menang tentulah itu hasil yang Dia kehendaki. Dan saya yakin dengan sepenuh hati bahwa apapun yang terjadi, saya akan tetap ada dalam genggaman tangan-Nya. Bukankah itu indah dan menyejukkan?

Kehidupan pekerjaan, rumah tangga, studi, dan pelayanan kita pun demikian. Apabila kita memiliki pengharapan, rasa kuatir akan masa depan yang tak pasti akan dapat kita atasi karena kita memiliki Dia, Sang Penguasa masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s