Taat Sampai Mana?

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” – Filipi 2:8

Saya adalah seseorang yang sangat suka nyetir. Ngebut dengan kendaraan apapun adalah hobi saya. Di satu sisi profesi polisi lalu lintas merupakan profesi yang paling tidak saya idolakan. Bila sering berkendara di Jakarta, pasti Anda memahami saya. Polantas seringkali bukannya menertibkan dan mengarahkan, malahan menjebak para pengemudi.

Sebelum bertobat, kalau saya melanggar peraturan, saya akan sangat bangga kalau saya bisa menyogok mereka dengan selembar lima puluh ribuan atau seratus ribuan. Rasanya hati ini berkobar dengan segenap kepuasan yang merendahkan diri mereka karena bisa saya bayar.

Dalam doa dan pengajaran yang kakak rohani saya sampaikan pada saya. Dia beberapa kali menyatakan bahwa saya diubahkan. Bahwa apa yang Tuhan Yesus suka, akan jadi kesukaan saya, dan apa yang Tuhan Yesus tidak suka, saya pun tidak suka.

Tidak lama setelahnya – hingga saat ini – saya mengalami 2 kali penilangan. Yang pertama karena saya mengambil jalan pintas melalui jalur busway. Yang kedua karena saya tidak tahu dan tidak ada peringatan yang jelas bahwa di waktu tertentu jalan tersebut ditutup.

Kejadian pertama tentu saja saya masih manut cara lama. Begitu buka jendela lima puluh ribuan langsung melayang ke tangan pak polisi yang spontan tersenyum. Yang saya kaget adalah ada perasaan yang sungguh hancur sampai-sampai di sisa perjalanan itu saya menangis minta ampun ke Tuhan. Saya tahu saya salah. Bukannya menerima konsekuensi, saya malah mengambil jalan pintas.

Kejadian kedua terjadi baru pagi ini. Kekesalan saya saya ungkapkan ke pak polisi bahwa kalau memang tidak boleh, seharusnya dipalang, bukan hanya mengandalkan lampu kuning (bukan lampu merah) dan plank larangan yang tidak terlihat keberadaannya. Tetapi saat ini saya mau taat dengan menjalani penilangan.

Walaupun setelah itu hampir nangis rasanya – karena selain merasa tertipu, saya juga akan kehilangan uang dan waktu yang saat ini tidak banyak saya miliki. Saya berdoa dan Tuhan mengingatkan bahwa saya sudah taat, sekarang giliran Dia yang akan memenuhi janji-Nya untuk mencukupkan saya.

Menjadi anak Tuhan itu tidak mudah. Belajar taat membutuhkan banyak pengorbanan. Ia tidak berkata bahwa segalanya akan indah, tetapi bersama Dia segalanya akan kita jalani dengan damai sejahtera. Saya bukanlah orang yang bisa setahun sekali berhadapan dengan polisi. Bahwa saya dalam waktu singkat ini ditilang dua kali, saya yakin itu atas seijin Tuhan untuk menguji ketaatan saya. Puji Tuhan saya lulus.

Tuhan Yesus sudah taat hingga mati, kita sudah taat sampai mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s