Mencari Tempat Berdoa

Blog ini merupakan lanjutan dari “Perjalanan Mencari Tuhan”.

Gereja Protestan, terutama gereja saya GKI, tidak seperti Gereja Katolik yang – mungkin hampir – selalu terbuka untuk jemaatnya datang berdoa. Ini membuat saya menghubungi sahabat saya, Ferdy, untuk ikut dia misa pagi di suatu pagi.

Ferdy saya kenal sejak kuliah di Teknik Arsitektur Binus tahun 2001. Hubungan pertemanan kami kembali intens sejak saya pindah ke kosan yang dia rekomendasikan dan kamar kami sebelahan selama lebih dari setahun dari Desember 2017 hingga awal Januari 2019. Kegiatan kami dari masak bersama, kerja bersama – karena sesama pekerja lepas yang bekerja dari kosan, hingga sharing soal iman. Sehingga walau saat ini kami sudah pindah ke apartemen masing-masing, kami masih sangat dekat.

Berdoa di misa pagi sepertinya masih kurang bagi saya. Saya teringat Ferdy beberapa kali bercerita tentang pengalaman retret dia ke Lembah Karmel. Bukan kebetulan ternyata ada jadwal retret seminggu setelahnya dan kami langsung mendaftar.

Menjelang kepergian kami ke Lembah Karmel, saya mempersiapkan diri saya. Saya berdoa meminta Tuhan memberikan saya kerendahan hati mengikuti berbagai ritual agama Katolik, hingga diskusi dan didoakan oleh teman saya Mia (mengenai hal ini akan saya jelaskan lebih detil di blog saya selanjutnya, “Mendengar Suara Tuhan”). Saya juga membeli Alkitab baru yang akan saya gunakan di retret. Selama bertahun-tahun hanya menggunakan aplikasi Alkitab, saya tidak ingat lagi apakah saya masih memiliki bukunya, sehingga saya memutuskan untuk membeli di toko buku Immanuel, yang sekali lagi bukan kebetulan bahwa lokasinya dekat dengan apartemen saya. Mia yang menemani saya kesana juga mengambilkan saya buku Paulus tulisan Charles Swindoll dan saya berkomitmen untuk menyelesaikannya sebelum Paskah (sekitar 3-4 minggu dari pembelian buku itu).

Berdoa, membaca Alkitab, dan menangis adalah 3 kegiatan yang paling banyak saya lakukan selama retret. Saya ingin membagikan yang saya dapatkan selama retret ini: Doa Yesus, Lectio Divina, dan jawaban Tuhan yang terus merema di hati saya.

Doa Yesus diajarkan oleh Suster Lisa, seorang suster senior di Lembah Karmel. Doa Yesus adalah doa yang mudah-mudah-sulit untuk dilakukan. Mudah karena sepanjang doa kita hanya menyebutkan nama Yesus dalam hati seirama dengan napas kita. Bisa kita lakukan di dalam kamar tertutup ataupun sepanjang hari ketika kita melakukan aktivitas keseharian seorang diri, sambil membersihkan rumah, sambil nyetir, dsb. Sulit karena kita harus mengusahakan diri untuk fokus hanya kepada Yesus selama minimal 20 menit. Kita harus belajar mengenyahkan pikiran-pikiran lain dan fokus hanya pada Nama-Nya. Jangan pikiran tagihan, jangan pikirkan makanan, jangan pikirkan apapun lainnya selama minimal 20 menit selain hati yang terhubung kepada Yesus.

Lectio Divina artinya pembacaan Ilahi. Kalau di gereja saya dulu, mirip dengan Pemahaman Alkitab (PA) Pribadi. Dilakukan dengan cara memilih sebuah perikop yang ingin kita baca, membacanya berulang kali hingga ada bagian tertentu yang berema di hati, mendoakan bagian tersebut berulang kali, dan mengambil pesan yang Tuhan ingin sampaikan. Bila ingin, saya sangat menyarankan melakukannya bersama teman (sendiri-sendiri) dan diakhir PA Pribadi ini, bagikan pesan Tuhan apa yang anda masing-masing dapatkan. Anda akan kaget – dan merasa terberkati – ketika saling membagikannya, setidaknya itu yang saya dan Ferdy lakukan.

Dari berbagai pengalaman saya di retret ada berbagai hikmat yang Tuhan sampaikan pada saya.

Pertama, Tuhan mau saya berpengharapan. Saya bukanlah orang yang suka meminta di dalam doa-doa saya karena pikir saya Tuhan sudah tahu dan akan memberikan saat Dia berkehendak. Tetapi saya salah. Tuhan ingin kita menyatakan dalam doa dan permohonan, apa yang hati kita dambakan. Memberikan kendali dengan kerendahan hati bahwa ada hal yang hanya Tuhan yang bisa dan mampu berikan kepada kita. Tidak mau meminta adalah bentuk kekuatan diri saya dan meminta membuat saya belajar rendah hati.

Kedua, Tuhan mau saya mengikuti perintah-perintah-Nya. Menjadi Kristen berarti menyerahkan pemerintahan hati kita kepada Yesus. Sebagai Tuhan dan Allah saya, yang bertakhta di hati saya, saya harus sepenuhnya tunduk pada apa yang Dia minta, saya harus sepenuhnya berjalan di jalan yang Dia tunjukkan. Ketaatan adalah satu hal yang membawa saya cukup jauh dengan kecepatan yang cukup cepat dalam memenuhi panggilan saya saat ini.

Ketiga, buah-buah roh. Sejak retret saya memaksa diri untuk menghafal dan mengulang-ulang dalam hati ke-9 buah roh (Galatia 5:22-23), yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Jauh setelah retret, hanya beberapa hari yang lalu, saya membaca buku Yesus yang juga tulisan Charles Swindoll mengenai orang Kristen yang salah kaprah. Kita, dan saya juga pun, menyangka bahwa kita harus berusaha mengamalkan 9 buah roh ini dan kita gagal lalu stres. Padahal Yesus berkata bahwa Yohanes 15:1-8 bawah Ia adalah pokok anggurnya dan kita adalah ranting-rantingnya. Kita akan berbuah bila kita tinggal di dalam Dia dan firman-Nya tinggal di dalam kita. Jadi yang kita lakukan untuk mengamalkan 9 buah roh adalah dengan tinggal di dalam Dia, bukannya berusaha sendiri untuk berbuah.

Saya pulang dengan jiwa yang diperbaharui. Pertanyaan masih banyak tapi saya tahu bahwa saya harus terus membina hubungan dengan Tuhan melalui doa, Alkitab, dan berbagai buku yang Dia minta saya baca. Selain itu satu hal yang baru adalah saya bisa dengan lancar berdoa dan doa menjadi sesuatu yang amat mudah, semudah bernapas. Tanpa sadar saya bisa doa berlama-lama dan sepertinya kerinduan untuk dekat dengan Tuhan terus membara di hati ini.

Perjalanan saya belum selesai di sini. Saya harap anda lanjutkan ke blog saya selanjutnya mengenai bagaimana saya mendengar suara Tuhan berbicara kepada saya dan Dia meneguhkan panggilan saya.

Blog ini bersambung ke Mendengar Suara Tuhan

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s