Mendengar Suara Tuhan

Blog ini merupakan lanjutan dari “Perjalanan Mencari Tuhan” dan “Mencari Tempat Berdoa”.

Menjelang retret saya sempat bertemu dan berdoa bersama Mia. Mia adalah sahabat saya sejak tahun 2007. Kami bertemu karena sama-sama aktif di GKI Kebayoran Baru dan melayani sebagai redaktur di majalah FHL, majalahnya Komisi Pemuda. Sejak itu kedekatan saya dan Mia on-off karena kesibukan masing-masing, tetapi selama itu yang selalu kami bicarakan seputar pasangan, pekerjaan, dan iman kami.

Mia memiliki pergumulan panjang dengan hubungannya dengan Tuhan sejak sebelum saya mengenalnya. Pada tahun 2018 dia memulai hidup barunya bersama Tuhan Yesus. Banyak hal telah Tuhan ubahkan dalam hidupnya dan dia membantu saya mencari jawaban atas segala pertanyaan saya.

Beberapa hari sebelum saya pergi ke retret Mia menginap di tempat saya dan kami berdoa bersama. Saat itu pula saya memutuskan bahwa saya ingin bertemu dengan sosok yang selama ini dia ceritakan sebagai kakak rohaninya, yang kemudian telah menjadi kakak rohani saya.

Kak Jane adalah hamba Tuhan yang sudah mengalami segala yang bisa anda pikirkan. Dia pernah meninggal selama kurang lebih 10 jam dan hampir di otopsi ketika dokter forensik mendapati nadinya kembali berdenyut. Dia pernah 2 kali sakit kritis, yang salah satunya adalah penyakit langka. Untuk urusan agama, dia Kristen sejak lahir dan aktif pelayanan. Untuk urusan dosa, dia pernah terjerumus dalam segala hal kecuali obat-obatan. Untuk urusan pekerjaan, dia dulunya adalah seorang wanita karir yang sangat sukses. Dan banyak hal lain yang terlalu panjang bila saya jelaskan satu per satu. Singkat kata Kak Jane akhirnya menerima panggilan Tuhan untuk melayani Dia fulltime sebagai pendoa.

Malam itu Mia mendapatkan pesan Tuhan yang dia sampaikan pada saya. Mia bilang bahwa akan ada sesuatu yang mencoba menghalangi pertemuan saya dengan Kak Jane dan itu asalnya bukan dari Tuhan. Saya pun jadi dibuatnya siaga, apapun yang terjadi saya sudah bertekad untuk bertemu Kak Jane.

Retret pun tiba dan saya pergi bersama Ferdy. Malam terakhir retret merupakan malam pencurahan Roh Kudus, saat yang dinanti setiap peserta retret. Saya dan Ferdy mempersiapkan diri sejak awal retret dan terutama di sepanjang hari itu. Sorenya saya mendapat pesan dari papa saya tentang sebuah kegiatan yang diadakan oleh GKI Pondok Indah yang saya teruskan ke Mia dan Ferdy. Saat itu reaksi Mia diluar dugaan saya. Saya yang sangat excited tentang kegiatan itu menjadi kecewa, dan bisa saya bilang bahwa kecewa saya berlebihan sehingga saya mempertimbangkan untuk tidak bertemu dengan Kak Jane.

Sekadar menjelaskan, saya adalah orang yang sangat logis namun cukup emosional. Jika saya sudah malas berhadapan dengan sesuatu, kadang saya cenderung lari dari hal tersebut. Untunglah saat itu Roh Kudus menggerakan logika saya dan mengalahkan emosi tersebut. Saya langsung teringat mungkin inilah hal yang Mia katakan bahwa akan ada yang menghalangi saya bertemu dengan Kak Jane. Lalu saya tekan perasaan kesal tak beralasan tersebut.

Hari berlalu, retret selesai, dan tibalah hari Selasa, H-1 dari rencana pertemuan saya dan Kak Jane. Tiba-tiba Mia menghubungi saya dan dia menyampaikan bahwa Kak Jane meminta agar pertemuan diundur.

Saya orang yang cukup sensitif terhadap perubahan jadwal. Sejak kecil saya diajari untuk disiplin terhadap waktu. Oleh karena itu, saya sangat keras terhadap diri saya sendiri dan orang lain untuk urusan waktu. Sehingga saya harap anda bisa dimengerti bahwa permintaan pengunduran jadwal ini sangat membuat saya kesal. Apalagi hari Rabu itu saya dan Ferdy sudah merencanakan akan masak bersama di tempat saya berhubung ada Ajie – roommate saya, Mia, dan Kak Jane.

Saya kemudian berpikir bahwa kalau memang batal, saya tidak ingin mengusahakan jadwal lain. Saya pikir, toh saya sudah ikut retret dan itu sudah cukup bagi saya. Kemudian Mia kembali menghubungi saya dan bilang bahwa pertemuannya tetap jadi. Mengenai hal ini akan saya bahas lagi kemudian, kita lompat dulu ke hari berikutnya ketika Kak Jane datang.

Setelah masak dan makan siang bersama Ferdy, Ajie, Mia, dan Kak Jane. Saya dan Kak Jane masuk ke kamar saya. Kami mulai saling bercerita tentang latar belakang satu sama lain, pergumulan saya, dan kami berdoa.

Di tengah-tengah doa, Kak Jane tiba-tiba berbahasa Roh dan Tuhan berbicara pada saya. Maksud saya Tuhan Yesus benar-benar berbicara dengan saya melalui Kak Jane. Dia berkata bahwa Dia Yesus dan Kak Jane mulai berbicara kepada saya dan bukan seperti kita yang berkata-kata kepada Tuhan dalam doa. Saya tidak bisa utarakan perasaan yang saya rasakan saat itu. Segala perasaan hormat kepada Tuhan, tunduk dalam hadirat-Nya, perasaan dicintai dan dikasihi, hingga hati yang merasa rindu bercampur hancur. Air mata saya pun semakin deras mengalir.

Ada beberapa hal yang Tuhan Yesus sampaikan pada saya. Pertama, Dia berkata bahwa selama hidup saya Dia selalu dan tetap ada. Tidak pernah Dia tinggalkan saya dan Dia menggendong saya saat saya tidak berdaya. Saya membayangkan seperti gambaran pada foot print on the sand.

Kedua, Dia menyampaikan agar saya tidak kuatir mengenai mama, papa, dan kakak saya karena mereka ada di tangan-Nya. Saya tidak menyampaikan ke Kak Jane tetapi dalam beberapa hari terakhir saya merasa terbeban untuk membantu pelayanan misi kakak saya yang saat ini sedang membutuhkan dana. Tuhan mengingatkan saya untuk tidak kuatir tentang hal ini.

Ketiga, Dia menjawab pertanyaan mengenai panggilan saya. Dia menyatakan bahwa saya akan melayani Dia. Bahwa akan ada banyak orang yang bertobat dan mengenal Yesus karena Injil yang akan saya beritakan. Luar biasa sekaligus menakutkan! Dia juga menyatakan bahwa saya akan menjadi berkat buat banyak orang. Ini pun bukan suatu yang sudah saya sampaikan ke Kak Jane sebelumnya. Setelah berdoa saya mengatakan ke Kak Jane tentang arti nama yang saya emban dan bahwa ketika mendirikan perusahaan, misi saya adalah menjadi berkat buat setiap client, vendor, dan karyawan.

Keempat, Tuhan berjanji bahwa akan banyak ladang pekerjaan baru yang Dia bukakan untuk saya. Dia berjanji bahwa saya tidak akan pernah kekurangan. Puji Tuhan!

Kelima, saya menyampaikan kekuatiran saya yang besar tentang seseorang yang saya kasihi. Saya sudah lama terpanggil untuk mendoakan pertobatannya dan agar dia serta keluarganya mengenal Tuhan (dia bukan Kristen). Tuhan menjawab dengan menyebutkan nama lengkapnya pada saya dan berkata, “bukan dia yang memilih-Ku tapi Aku yang memilih dia.”

Saya sungguh tersungkur di hadapan Tuhan atas segala penyataan dan pernyataan-Nya!

Setelah berdoa saya sempat bercerita tentang ‘halangan’ yang terjadi seperti yang disampaikan oleh Mia dan Kak Jane bercerita bahwa ketika dia hampir menjadwalkan ulang, Tuhan menegur dia. Tuhan bilang bahwa apapun yang terjadi Kak Jane harus datang dan melayani saya hari itu karena saya menganggap retret itu sudah cukup bagi saya.

Saya seorang pendosa dan seorang yang tidak layak, telah Dia hampiri dan Dia berikan janji yang begitu luar biasa. Dan Dia tidak menyerah bahkan ketika saya hampir menyerah!

Sejak saat itu hingga blog ini saya tulis ada begitu banyak hal yang terjadi dan akan saya bagikan di blog-blog selanjutnya. Yang saya ingin sampaikan adalah bila anda ingin dan sungguh-sungguh ingin mencari dan rindu untuk mengenal Tuhan Yesus, Ia ada. Teriakan kerinduan anda dan rendahkan hati anda, Ia pasti akan menjawab segala pertanyaan anda. Seperti janji-Nya dalam Yeremia 29:13 yang berbunyi, “Apabila kamu sungguh-sungguh ingin menemukan-Ku dan merindukannya lebih dari apapun, Aku menjamin bahwa kamu tidak akan kecewa.” (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Alkitab versi The Message)

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s