Maafkan Dirimu

Beberapa kejadian yang terjadi di tahun ini, dan firman Tuhan yang saya dapatkan pada hari ini, mendorong saya untuk menuliskan perihal pengampunan. Saya sempat menimbang apakah saya lebih baik menggunakan kata ampun atau maaf. Ternyata keduanya memiliki arti yang sama menurut KBBI dan saya bisa gunakan salah satu dalam konteks ini. Meskipun demikian saya merasa bahwa kata ‘maaf’ terasa lebih pas.

Memaafkan atau mengampuni adalah hal yang kita, sebagai orang Kristen, terus menerus diingatkan untuk kita lakukan. Beberapa kali termasuk dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus meminta kita agar kita mengampuni orang yang bersalah kepada diri kita.

Setidaknya ada dua kali hal ekstrim tentang pengampunan yang terdapat di dalam Matius 18:21-22 dan Matius 5:23-24

Matius 18:21-22 – “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan. Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Matius 5:23-24 – “Sebab itu, jikalau engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Jika hal mengampuni orang lain adalah sesuatu yang begitu penting sehingga kita harus melakukannya ratusan kali dan harus melakukannya sebelum memberikan persembahan kepada Tuhan, mengapa banyak orang yang justru sulit memaafkan diri sendiri dan bahkan tidak tahu bahwa hal itu harus dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan?

Hubungan saya yang terakhir dengan mantan pacar tidak selalu indah. Ada banyak hal yang terjadi selama 1,5 tahun kami bersama dan baru saya sadari ketika berakhir bahwa banyak kekesalan yang selama ini saya simpan atas nama kompromi. Kompromi demi kompromi saya kompres dengan plastik kedap udara layaknya traveler hingga semua bisa masuk dalam backpack saya. Dengan kondisi yang sensitif itu, saat terjadi kebocoran semua meledak hingga saya sadar bahwa sebenarnya beban sebanyak itu tidak sanggup saya simpan di backpack saya ini.

Sudah 4 bulan sejak saya putus dan sejak saat itu saya masih rutin mendoakan dia. Saya memang sejak masih bersama dia, memiliki kerinduan untuk mendoakan dia dan keluarganya agar mereka bisa mengenal Tuhan Yesus. Dalam 4 bulan terakhir ini ada masa saya sempat tidak bisa mendoakan dia. Menurut Kak Jane, kakak rohani saya, ada sesuatu yang harus saya maafkan, dan saya pun mendoakan hal itu.

Yang saya tidak sangka ialah yang saya harus maafkan ternyata diri saya sendiri. Selama 1,5 tahun bersama, saya sudah banyak kali bersalah pada diri saya. Saya tahu bahwa hubungan kami tidak akan panjang, tapi saya memaksakan. Saya berulang kali berkompromi terhadap hal-hal yang saya tahu tidak benar, tapi saya paksakan diri saya untuk tenggelam di sana.

Saat saya berdoa berulang-ulang dan akhirnya sudah memaafkan diri saya, saya merasakan bebas dari rasa bersalah dan menyalahkan dia untuk hubungan kami yang gagal. Saya malah merasa bersyukur karena Tuhan angkat saya dari kehidupan yang tidak berkenan dengan-Nya.

Hari ini saya mendengar pembahasan Yohanes 21 tentang bagaimana Tuhan Yesus menampakkan diri pada Petrus. Saya menangis ketika membaca ayat 15-19. Ada hal yang berema di hati saya, yang akhirnya mendorong saya menuliskan blog ini.

Tuhan telah mengampuni Petrus dan Dia mau Petrus memaafkan dirinya sendiri!

Sangat mudah rasanya bila kita menjadi Petrus untuk tenggelam dalam penyesalan yang luar biasa, hingga bahkan terpikir bunuh diri karena dia telah menyangkal dan mengecewakan Gurunya. Tetapi dia memutuskan untuk memaafkan dirinya sendiri ketika Yesus menjamah dia.

Sebagai pengikut Kristus kita sudah ditebus dan diampuni oleh Tuhan. Kita sudah diberikan keselamatan kekal ketika Tuhan Yesus mati bagi kita, tetapi kenapa kita belum juga bisa memaafkan diri kita?

Serahkan ke Tuhan Yesus segala beban dan hati kita yang hancur karena hanya Dia yang mampu menanggung dan sudah memulihkannya bagi kita. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukan sekadar menerima keselamatan dari-Nya tapi juga memberikan hati dan jiwa kita sepenuhnya. Tukarkan kepahitan anda dengan damai sejahtera-Nya.

You can do it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s