Love is a verb

Tahun lalu saya menjalin hubungan dengan mantan pacar saya selama 1,5 tahun. Hubungan ini berakhir di awal tahun 2019 dengan banyak pertanyaan dan kekecewaan. Sejak awal saya tahu bahwa saya memaksakan hubungan ini karena selain beda agama, jalan hidupnya berbeda 180 derajat dengan saya. Dari segi keluarga, pekerjaan, dan pergaulan, kami seperti air dan minyak.

Hubungan kami berakhir karena beberapa hal. Pertama, kebiasaannya merokok semakin hari semakin membuat pernapasan saya terganggu. Di awal dia berjanji bahwa dia bisa dengan mudah melepaskan hal itu, tetapi pada akhirnya dia bilang bahwa dia tidak bisa dan dia memilih untuk tetap melakukannya.

Kedua, dia seseorang yang sangat minder dengan latar belakangnya sehingga enggan memberanikan diri mendekatkan diri ke keluarga saya, bahkan kadang ke teman-teman saya.

Ketiga, dia tidak pernah mau mempublikasikan hubungan kami di social media dengan cara apapun. Bila kita mencintai seseorang, kita akan dengan bangga menyebut bahwa dia adalah kekasih kita. Ketakutan membuktikan sebaliknya karena saya percaya di dalam cinta tidak ada ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Keempat, setiap kali dia melakukan suatu kesalahan dia sangat mudah berkata maaf tetapi tidak ada perubahan. Hal yang sama terus dilakukan dan kata maaf dengan lancar mengalir tanpa arti.

Jangan salah artikan penjabaran di atas dengan kebencian karena saya sudah bisa memaafkan diri saya. Lho kok ‘diri saya’? Ya, ada masanya saya berusaha keras memaafkan dirinya dan berulang kali saya gagal. Perasaan kesal terus menerus timbul karena saya menuntut dia berubah agar saya bisa ampuni dirinya padahal sayalah yang bersalah karena saya terus menerus bercokol dalam hubungan itu ketika saya tahu saya harus keluar. Saya mengampuni diri saya karena hal itu dan akhirnya saya berdamai dengan masa lalu saya bersama dia.

Alasan saya menceritakan hal ini adalah karena Tuhan ingin anda untuk memahami perasaan-Nya melalui pengalaman saya.

Saya awalnya adalah seorang Kristen karena bawaan lahir. Walau telah dibaptis dan mengaku percaya, saya tetap hidup di dalam dosa. Segala dosa dari berbohong, menipu, hamba uang, dosa seksual, mabuk, sombong, dan lain sebagainya. Setiap habis berbuat dosa saya bilang ke Tuhan bahwa saya tidak akan melakukannya lagi tetapi toh saya tetap mengulanginya.

Saya tidak dapat berdoa dengan berbagai alasan. Bahkan doa makan saya dari kecil hingga besar selama puluhan tahun tetap sama, “Tuhan, berkati makanan ini. Haleluya, amin”. Setiap mau berdoa saya bingung apa yang mau dikatakan hingga akhirnya saya tidak berdoa, kecuali ada dorongan yang sangat besar, lalu saya berdoa. Tapi itu hanya terjadi tidak seminggu sekali.

Saya banyak membagikan hal-hal lucu seperti gambar anjing dan lelucon di social media tetapi saya merasa janggal bila berbicara tentang iman saya. Rasanya takut menyinggung orang, rasanya kok memaksakan sekali dan tidak pantas.

Saya setiap hari Minggu mengikuti doa pengakuan dosa di kebaktian tetapi itu hanyalah rutinitas. Tidak ada makna. Tidak ada pertobatan.

Cinta adalah kata kerja. Puji Tuhan saya diberikan hikmat untuk mengerti!

Ya, Tuhan Yesus sudah menyelamatkan saya tetapi seperti kata Rasul Paulus dalam Filipi 2:12 – “karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”.

Yang Tuhan Yesus inginkan adalah kita mengenal Dia dan menjalin hubungan yang hangat. Sebuah hubungan yang begitu erat hingga kita mengenal hati Bapa. Sebuah hubungan yang romantis hingga kita bangga menyebut Dia Tuhan dan memberitakan tentang keselamatan-Nya ke semua orang tanpa takut! Sebuah hubungan yang dibangun dengan hati yang hancur dan bertobat, disertai dengan kerinduan untuk berada di hadirat-Nya selamanya.

Ingat bahwa perjalanan kita tidak berhenti saat kita menerima keselamatan, malah baru saja dimulai! Setelah kita bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, hidup kita harus dan akan berubah. Kita secara aktif mengusahakan keselamatan dengan menggali Firman Tuhan, seperti tertulis dalam 1 Timotius 4:7 – “latihlah dirimu beribadah.” Bacalah Alkitab dan berdoalah secara rutin setiap hari.

Tuhan Yesus berfirman, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau tidak tinggal di dalam Aku.” – Yohanes 15:4.

Bila kita menggali Firman Tuhan dan berdoa, Tuhan Yesus mengatakan kita akan berbuah, “buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” – Galatia 5:22-23

Jangan sampai kita terlena karena kita merasa sudah diselamatkan lalu bebas berbuat dosa lagi atau tidak aktif dalam pengenalan akan Tuhan karena “setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya” dan “barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” – Yohanes 15:6

Banyak orang Kristen begitu terlena dengan ‘mudahnya’ keselamatan itu diberikan tetapi kita kadang tidak sadar bahwa setelah diselamatkan ada tugas panggilan yang menanti setiap orang percaya. Kalau selevel Rasul Paulus saja masih bisa mengatakan, “aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” – Filipi 3:13-14 …apalagi kita?

Ingat, cinta adalah kata kerja. Anda sudah menerima Tuhan Yesus, tetapi apakah anda mencintai-Nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s