Meratakan tanah bergelombang

Yesaya 13:11b (TB) – kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan.

Sejak di Pra-Remaja dulu saya sangat suka lagu Jangan Lelah oleh Franky Sihombing. Sepertinya ini jadi himne anak-anak muda yang aktif melayani di gereja. Lagu ini saat ini kembali sering saya dengar sewaktu memutar playlist lagu-lagu penyembahan oleh om Franky. Sejak dulu saya bukan orang yang cukup kreatif dalam mencari atau membuat playlist. Jadi sewaktu mencari lagu rohani untuk saya dengarkan, kebanyakan seputar lagu-lagu dari Franky Sihombing atau Robert & Lea Sutanto saja.

Satu hal yang paling berkesan dari liriknya adalah “ratakan tanah bergelombang, timbunlah tanah yang berlubang, menjadi siap dibangun di atas dasar iman.” Berkesan karena saya ingat gaya/gerakan lagu ini yang menurut saya absurd. Disamping itu selama ini saya tidak pernah tahu apa sebenarnya makna meratakan tanah bergelombang—selain bahwa kalimat ini diambil dari ayat Alkitab (Yesaya 40:4)—hingga pagi ini ketika saya menyanyikan lagu ini di kamar mandi.

Saya ceritakan dulu sedikit kisah saya.

Kemarin adalah sebuah hari yang bersejarah di mana saya melakukan 2 hal besar dalam kehidupan bergereja saya. Yang pertama saya mengajukan atestasi keluar dari GKI Kebayoran Baru, gereja tempat saya di baptis anak, sekolah minggu, pra-remaja, lalu skip beberapa tahun, dan kembali lagi pada saat pemuda hingga kemarin ketika saya akhirnya keluar.

Secara umum GKI selama ini merupakan ‘rumah’ bagi saya. Kemana pun saya pergi, saya selalu mencari GKI untuk bergereja (bila tidak ada GKI biasanya saya memilih untuk tidak kebaktian sama sekali). Saat pemuda saya juga sempat memimpin sebagai Ketua di Komisi Pemuda Klasis, aktif berkegiatan di Komisi Pemuda Sinode, dan bergabung dengan teman-teman pemuda GKI Sinode Jabar dalam merancang materi Life Group. Saya mungkin satu dari sedikit pemuda yang membaca Tata Gereja GKI—dengan senang dan sukarela selayaknya anak jurusan Hukum mempelajari undang-undang. Salah satu sahabat saya, Mia, pun mengingatkan saya bahwa lagu favorit saya di GKI adalah Berderaplah Satu—mars GKI yang dinyanyikan setiap bulan Agustus dalam rangka ulang tahun penyatuan GKI. Sehingga ibadah itu adalah salah satu ibadah dalam setahun yang paling saya tunggu—nomor 2 setelah ibadah Malam Natal.

Jadi ketika kemarin saya memutuskan untuk atestasi dari GKI Kebayoran Baru, rasanya bukan hanya keluar dari satu jemaat tetapi satu lembaga gereja tempat saya tumbuh sejauh ini.

Hal besar yang kedua adalah saya mengikuti baptisan selam di GMS. Ini menandakan berawalnya kehidupan baru saya, menerima bahwa diri saya dimuridkan di GMS, dan saya menyerahkan diri saya sepenuhnya untuk pelayanan kemanapun Tuhan Yesus membawa langkah saya.

Lalu apa hubungannya dengan lagu tadi? Bukan kebetulan Roh Kudus memutar terus lagu itu di kepala saya.

Saya merasa di kehidupan bergereja saya yang lama saya telah banyak berkarya dan mencapai titik tertentu yang saya anggap sebuah prestasi dalam bergereja dan berorganisasi. Bahkan saya boleh bilang bahwa saya adalah salah satu Ketua Klasis yang membawa Komisi Pemuda Klasis dalam masa-masa terbaiknya. Betapa sombongnya! Dan itulah “gelombang-gelombang pada tanah” yang perlu diratakan!

Markus 7:20-23 (TB) – Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Hati saya terhentak ketika Roh Kudus menyatakan hal itu. Saya yang selama ini menyombongkan masa lalu saya, datang ke gereja baru dengan berbekal CV lama yang tidak valid. Not one thing from my past matters here! Di gereja ini saya harus mulai dari nol, ikut semua kelas dengan kepatuhan dan kerendahan hati yang luar biasa, dan belajar untuk bisa dimuridkan.

Mikha 6:8 (TB) – hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.

Kata om Franky di lagu itu, “ratakan tanah bergelombang, timbunlah tanah yang berlubang, menjadi siap dibangun di atas dasar iman”. Agar saya bisa menjadi murid, agar saya bisa dibangun di atas dasar iman, saya harus mengikis habis seluruh kesombongan dalam diri saya. Seperti tertulis dalam Ayub 34:32 (MSG) – “Teach me to see what I still don’t see,” atau yang saya terjemahkan, “ajarkan aku untuk melihat apa yang masih belum dapat aku lihat”. Tuhan ingin membereskan berbagai hal dalam hidup kita agar kita dapat bertumbuh sebagai murid menjadi pemimpin gerejanya.

Thank you, Holy Spirit, for teaching me this valuable lesson.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s