‘In a relationship’ Atau ‘Complicated’

Hubungan dengan Tuhan serupa dengan pasangan. Kita terima cinta-Nya lalu menjalani hubungan. Kita bertumbuh dalam pengenalan akan diri-Nya dan pergumulan kita dengan Dia pun bertumbuh seiring dengan pengenalan kita.

Kita terus menerus dalam cinta-Nya dan mencintai Dia tapi kita tidak berkali-kali menerima cinta-Nya karena cinta itu sudah kita terima dan Dia dan kita sudah menjadi satu.

Kita lalu menghidupi dan berkembang dalam hubungan ini. Setelah melalui ‘honeymoon period’, kita ingin Dia dikenal oleh keluarga dan sahabat kita. Kita menceritakan hubungan kita yang intim dan orang perlahan melihat diri kita diperbaharui karena hubungan kita dengan-Nya.

Mereka kemudian bahagia melihat dan mendengar berbagai hal positif yang mengubahkan hidup kita dan ingin juga mengenal Dia secara pribadi. Hal itu tidak bisa sekadar ‘diceritakan’ tapi harus ada pertemuan pribadi antara mereka dengan Dia.

Dia lalu menyatakan Diri-Nya pada mereka dan kita akan membiarkan proses itu terjadi. Kita tidak mendominasi perkenalan dan percakapan tersebut tapi membiarkan Dia berbicara langsung dengan mereka.

Dalam hubungan pribadi kita pasti tetap mengalami pergumulan dengan-Nya tapi semua itu berkembang menjadi semakin kompleks. Tidak melulu hal yang itu-itu saja karena kita sudah saling mengenal. Seperti halnya pasangan tidak melulu masalah kita soal perasaan, soal mantan, soal pilihan restoran, tetapi akhirnya berkembang jadi perencanaan masa depan, merencanakan pendidikan anak, hingga pergumulan lain yang ‘lebih penting’ karena hal-hal ‘sepele’ walaupun masih ada, tentu sudah bukan masalah dan bisa segera kita atasi tanpa perlu dipikirkan berlarut-larut.

Lalu sudah di tahap mana hubungan kita dengan Yesus? Apakah kita masih belum yakin bahwa kita dan Dia saling mencintai? Apakah kita masih ragu bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada kita? Apakah kita di tahap mencari lebih dalam akan pengenalan dengan-Nya melalui pendalaman Alkitab? Apakah kita sudah menceritakan hubungan kita dengan Dia ke keluarga dan teman? Apakah orang sekitar kita sudah melihat perubahan positif diri kita? Sudahkah mereka tertarik untuk mengenal Dia berdasarkan cerita dan perubahan hidup kita? Sudahkah mereka kita perkenalkan? Sudahkah mereka bertemu secara pribadi dengan Dia?

Jangan-jangan saat ini kita masih bergumul dengan kebingungan apakah status saya saat ini ‘in a relationship’ atau ‘complicated’. Jangan-jangan kita masih terus menerus meminta Roh Kudus untuk masuk dan berkuasa di diri kita. Jangan-jangan kita sudah ‘menikah’ bertahun-tahun tapi masih ragu soal perasaan satu sama lain.

Ini saatnya kita bangun dari tidur panjang dan membangun relasi kita dengan Yesus. Kasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Matius 22:37) berarti dengan aktif mendalami Firman-Nya dan mencari kebenaran-Nya.

Seperti halnya Allah berfirman agar manusia beranak cucu dan menaklukkan bumi (Kejadian 1:28), Yesus juga berfirman agar kita menjadikan segala bangsa muridnya (Matius 28:18-20). Kenapa kita semangat melakukan yang pertama tetapi berpikir bahwa yang satunya itu opsional?

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” – Matius 28:18‭-‬20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s