Marketplace Ministry dan Menemukan Panggilan Pelayanan

Pekerjaan ‘resmi’ pertama saya setelah lulus kuliah adalah sebagai konsultan rekrutmen di sebuah perusahaan headhunter. Sebenarnya saya sudah bekerja sebagai trainer sejak kuliah dan setelah lulus pun saya sempat mengajar privat pelajaran sekolah ke rumah-rumah. Tetapi bila ditanyakan apa pekerjaan pertama saya, saya akan menyebutkan recruitment consultant.

Entah kenapa saya sangat suka sebutan dan pekerjaan sebagai konsultan. Sampai-sampai waktu papa menanyakan mau masukkan apa di kolom pekerjaan di KTP? Saya sontak menjawab ‘konsultan’! Karena jelas bukan lagi mahasiswa, tetapi juga tidak mau ‘pegawai swasta’.

Setelah belasan tahun berlalu, saya masih saja seperti memimpikan berprofesi sebagai konsultan. Walau saya saat ini sudah ‘resmi’ menjadi konsultan dan mendirikan perusahaan sendiri, rasanya masih ada yang kurang. Ada 2 fase yang terjadi yang akhirnya menjawab hal ini.

Fase pertama adalah masa-masa sebelum saya bertobat dan lahir baru hingga waktu-waktu terakhir ini. Saya bertanya apakah sebenarnya Tuhan ingin saya melayani sebagai Hamba Tuhan fulltime? Apakah saya harus masuk seminari, lalu mengisi waktu saya dengan penginjilan, berkotbah, dan menulis? Haruskah saya melepaskan pekerjaan saya ini dan mengikut Tuhan? Jangan khawatir, saya pun tahu bahwa tidak menjadi fulltimer pun kita semua harus tetap melayani Tuhan secara penuh, tapi maksud saya adalah tidak bekerja di industri sekular. Apakah itu jawabannya?

Saya terus mendoakannya dan banyak juga yang menanyakan ke saya apakah saya ingin, pernah terpikir, atau pernah menggumuli untuk mengambil sekolah teologi? Setiap pertanyaan membuat saya berpikir, Tuhan apakah ini yang Tuhan inginkan? Mengapa pertanyaan ini terus datang kalau bukan Tuhan yang ingatkan? Apakah itu maksud-Mu?

Secara overlap dengan fase pertama, saya tidak menduga fase kedua mulai masuk. Dimulainya adalah ketika teman saya Diana Tanu, COO di Top Karir, sebuah portal rekrutmen, mengajak saya untuk menjadi konsultan karir bagi fresh graduate dan first jobber. Di sini saya menyediakan waktu saya untuk berkonsultasi dengan para pencari kerja tentang kehidupan di dunia kerja, mulai dari mencari pekerjaan, tips saat bekerja, hingga bila mereka memutuskan ingin berwirausaha. Saya sangat bahagia dan puas bila mereka memilih saya sebagai konsultan, merasa dibimbing, dijawab, dan didengarkan, hingga memberikan review yang positif di akhir sesi. Inilah titik awal di mana saya merasa bahwa impian saya bisa menjadi makna bagi orang lain.

Suatu ketika Pak Ishak Sukamto, Direktur SMC dan pengurus di Sinode GKY, mengatakan akan mengajak saya diskusi tentang apa yang bisa saya kerjakan di pelayanan. Oleh karena kesibukannya, hingga saat ini kami belum sempat bertemu lagi tetapi saya jadi sempat memikirkan, apa ya yang saya ingin lakukan? Saat itu saya juga masih menggumulkan apa yang Tuhan mau saya lakukan? Di mana ladangnya, Tuhan? Siapa yang harus saya layani? Sementara bertanya, saya menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai seminar, mengikuti sertifikasi pelayanan, dan membaca berbagai buku. Hingga suatu ketika, belum untuk berdiskusi panjang lebar karena keterbatasan waktu, saya bertemu kembali dengan Pak Ishak dan saya bilang ke beliau, rasanya saya ingin melayani sebagai konselor karir untuk kaum muda. Kemudian itulah pertama kalinya saya mendengar istilah marketplace ministry. Belum sempat bicara lebih lanjut, tetapi istilah itu menempel di pikiran saya.

Kali kedua saya mendengar istilah yang sama adalah ketika saya konseling dengan Pdt. Petroes S. Soeryo, Gembala di GKY Kebayoran Baru tempat saya beribadah. Pak Petroes sedikit menjelaskan soal pentingnya marketplace ministry dan memberikan saya sebuah buku tulisan Prof. Lee Hardy yang berjudul “Karier: Panggilan atau Pilihan? The Fabric of This World”. Saya akan bagikan isinya saat saya sudah menyelesaikan buku ini.

Tapi itu semua belum klik sampai semalam ketika saya habis mengobrol dengan seorang teman. Suwi, adalah teman yang saya kenal ketika bekerja di production house 2 tahun yang lalu. Singkat kata Suwi menemukan kebahagiaan dalam hal baru yang dia baru geluti, yaitu bisnis kuliner rumahan. Masakannya ternyata sangat digemari dan dia dengan lihay melakukan pemasaran produknya sendiri dan produk teman-temannya dengan sangat efektif. Tidak sadar kami berdiskusi selama 2 jam dan diakhiri dengan Suwi sangat terbantu dengan saran yang saya berikan.

Sontak seakan Tuhan berkata, ini panggilanmu! Dan ketika itu juga saya tahu bahwa itulah yang harus saya lakukan, marketplace ministry! Membantu kaum muda menemukan jawaban dalam dunia pekerjaan yang penuh rintangan dengan membimbing mereka menggunakan prinsip-prinsip Christian worldview. Kalimat ini belum sempurna tapi inilah panggilan saya. Ini semua langsung klik dengan 2 hal yang sebelumnya saya ketahui sebagai panggilan saya yaitu penginjilan dan menjadi berkat.

Saya masih cukup kaget bercampur haru dan kagum betapa Tuhan membimbing saya sejauh ini. Bila anda membaca sampai sejauh ini, terima kasih, dan saya harap anda mau membantu mendoakan panggilan saya ini agar saya semakin diteguhkan dan dimantapkan dalam pelayanan saya bagi kaum muda yang membutuhkan Kristus.

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s