Forgive Your Debtors

“and forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors.” – Matthew 6:12 ESV

Sebagai seorang melankolik, masalah pengampunan adalah salah satu isu yang lumayan berat bagi saya. Beberapa waktu terakhir ini saya kembali diingatkan akan hubungan-hubungan horizontal yang ternyata masih sangat membekas dan ‘terlewatkan’ untuk saya serahkan pada Tuhan untuk dipulihkan.

Saya bagi peristiwa-peristiwa ini dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terjadi dengan orang-orang yang tidak dekat dengan saya, kelopok kedua terjadi dengan orang-orang yang saya anggap (atau pernah anggap) sebagai sahabat.

Tanpa ingin mengingat terlalu detail, ada 3 kasus yang paling terngiang. Kasus pertama adalah mantan guru saya yang (tidak berlebihan bila saya katakan) sangat jahat selama saya di SMA. Saya tidak paham kenapa dia sepertinya sangat membenci saya dan bahkan pernah membuat saya menangis. Singkat kata ketika beberapa belas tahun setelah saya lulus SMA, beliau meninggal karena kanker dan ketika itu saya sangat lega. Tidak ada sedikitpun rasa kasihan atau pengampunan yang saya berikan.

Kasus kedua adalah seseorang, yang bahkan bukan teman, namanya pun saya tidak ingat. Dia sempat menjelek-jelekkan saya di media sosial karena dia merasa saya hapus pertemanannya, padahal menerima pertemanan pun saya tidak pernah (hanya dia saja yang merasa demikian). Lalu dia menulis hal-yang tidak-tidak tentang saya dan teman-temannya, yang saya juga hanya sekadar tahu, ikut-ikutan berkomentar yang tidak baik. Beberapa tahun kemudian dia meninggal dan saya sungguh senang mendengar berita tersebut.

Kasus ketiga adalah seorang kenalan yang saya pikir memiliki relasi yang baik dengan saya. Saya pikir saya cukup baik terhadap dia, karena saya merekomendasikan tempat tinggal untuk dia di gedung yang sama yang saya tempati dan saya mengadakan jamuan makan malam untuk dia agar dia juga kenal teman-teman saya yang tinggal ataupun sering main ke sana. Pada saatnya dia hanya tidak hadir, tapi juga tidak pernah menghubungi saya kembali. Bahkan dia seperti tidak kenal dan tidak bertegur sapa dengan saya di gedung tersebut. Sudah beberapa bulan terakhir dia sakit keras dan beberapa hari yang lalu dia meninggal dan saya seperti dalam perenungan, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya harus bersikap?

Kelompok kedua lebih sensitif karena mereka adalah orang-orang yang dulunya sahabat saya. Sahabat bagi saya adalah orang yang saya akan hubungi untuk menceritakan kehidupan saya dari kerja, pasangan, keluarga, hingga apabila saya sakit (saya bukan tipe orang yang menceritakan soal hal pribadi seperti keluarga dan kesusahan ke siapapun). Dan otomatis saya pun berharap sahabat saya melakukan hal yang sama. Saya berharap mereka menginginkan hubungan timbal-balik yang sepadan. Tetapi ternyata tidak.

Dalam kasus pertama, sepertinya hubungannya sungguh berat sebelah. Saya yang harus mencari, saya yang harus mengusahakan, saya yang harus ‘memohon’ agar kami meluangkan waktu bersama. Sungguh melelahkan.

Kasus kedua agak unik karena saya sungguh tidak paham apa penyebab perubahan sikapnya sehingga rasanya dia sangat tidak tahan ada bersama dengan saya. Dan menurut saya ini terjadi sangat mendadak dan semakin parah setiap saat.

Pada kasus ketiga, meskipun saya tahu masalahnya ada pada dia, tapi saya tidak habis pikir kenapa sahabat yang selalu ada bersama saya dan biasa bertukar pikiran terhadap hal yang sama, mendadak punya pikiran yang sangat negatif terhadap perkataan saya (yang seperti biasa saya katakan dalam perbincangan serupa) dan sontak memblokir saya.

Mohon maafkan karena untuk kelompok kedua ini saya tidak bisa menceritakan dengan lebih detil karena sensitivitasnya. Ini tidak akan mengurangi esensi dari sharing pengalaman saya ini.

Kemudian saya tersadar bahwa hal yang terjadi dan teringat secara bertubi-tubi ini pasti punya maksud, saya belum pernah menyerahkan hal ini kepada Tuhan! Secara parsial mungkin ya, tetapi belum pernah sebagai sebuah kelemahan yang saya ingin Tuhan ubahkan!

Saya diingatkan Tuhan bahwa apalah artinya memaafkan kesalahan kecil seseorang dibandingkan dengan dosa-dosa besar yang telah Tuhan hapuskan? Seperti dalam Lukas 6:41a, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu.” Atau tidakkah saya ingat bahwa adalah jahat menuntut ‘hutang’ yang kecil di saat hutang saya yang besar telah dihapuskan? Dan dengan jelas Tuhan Yesus berkata bahwa saya harus mengasihi kawan saya seperti Dia telah mengasihi saya. (Matius 18:32-33)

Saya sadar bahwa sifat ini tidak akan bisa hilang dengan ajaib tetapi bahwa Roh Kudus menegur dan menguatkan saya melalui beberapa ayat ini, membuat saya yakin ini adalah PR yang segera harus saya selesaikan. Bila Anda memiliki pergumulan yang sama, Anda tidak sendirian. Tinggalkan komentar di bawah ini agar kita bisa saling mendoakan.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” – Markus 11:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s