What would you do differently?

Jika punya kesempatan untuk mengulang masa lalu, apa yang akan kamu lakukan secara berbeda atau perbedaan apa yang akan kamu lakukan? Pertanyaan ini pasti setidaknya pernah sekali terlintas di pikiran atau ditanyakan kepada kita. Apa jawabmu?

Saya adalah seseorang yang jarang menyesal. Ada satu atau dua hal yang menurut saya penyesalan terbesar di hidup saya, dan itu pun saat ini sudah saya terima sebagai jalan yang harus saya lalui sejak saya lahir baru dalam Kristus. Lalu apa yang mungkin saya inginkan dari masa lalu saya?

Saya merasa bahwa saya cenderung perfeksionis dalam beberapa hal (tidak semua tapi beberapa ada lah :D). Seperti halnya bila saya main game, bila mengulangi sebuah level memungkinkan, saya akan mengulanginya sampai mencapai poin sempurna pada level tersebut. Demikian pula dengan masa lalu saya.

Ketika saat ini saya melihat ‘kehidupan rohani yang ideal’ dari seorang anak muda sepertinya ingin sekali saya mengulangi masa muda saya. Mengenal Tuhan lebih dini (bedakan antara tahu dan kenal), bertumbuh dalam sebuah kelompok kecil, mengikuti persekutuan mahasiswa, dan melakukan pelayanan dengan ‘benar’. Saya sangat iri dengan adik-adik yang berusia belasan dan dua puluhan yang sudah begitu dewasa secara rohani dibandingkan dengan diri saya ketika seusia mereka.

Bila saya dapat kembali ke diri saya yang masih kecil, saya akan mengajari dia bagaimana bertekun dalam saat teduh menggunakan buku renungan harian yang disediakan orangtuanya. Saya akan menceritakan siapa Tuhan Yesus itu, mengapa Dia begitu penting bagi dirinya, dan begitu mengasihinya. Saya akan mengajari dia bagaimana mengasihi Dia sepenuh hati, jiwa, dan akal budinya.

Film Hollywood membuat kita berangan untuk mengubah realitas masa lalu kita. Bila itu terjadi bisa saja sejarah hidup saya berubah dengan jutaan kemungkinan yang ada. Puji Tuhan kita tidak perlu membuat diri kita sendiri gila dengan memikirkan jutaan kemungkinan yang tidak terjadi itu.

Tetapi Bapa dengan luar biasa mengintervensi kehidupan saya sehingga anugerah keselamatan itu toh tetap saya alami walau tidak saya hidupi sejak dini seperti halnya orang lain. Kematian Tuhan Yesus cukup bagi setiap orang yang menerima-Nya karena waktu untuk menikmati-Nya adalah sampai kekekalan. Malahan rasa penyesalan atas keterlambatan ini membuat saya ingin mengejar dan mengerjakan keselamatan yang telah saya terima dengan lebih bersemangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s