Kelajangan

Sendiri merupakan sebuah hal yang sangat aneh bagi kebanyakan orang. Setidaknya itu yang saya selama ini perhatikan. Orang-orang cenderung melihat kesendirian sebagai hal yang tidak sepatutnya, baik dalam hal lanjang atau tidak menikah, traveling sendirian, hingga nonton bioskop sendirian. Seakan ada hal yang aneh dari seorang diri saja.

Sebagai seorang perempuan yang belum menikah di usia menjelang kepala empat, saya termasuk yang tidak banyak mengalami persekusi dalam bentuk pertanyaan dari teman dan kerabat. Tapi saya merasa bahwa ada kalanya gangguan-gangguan itu timbul karena ketidaknyamanan orang lain terhadap status saya. Dari pernyataan bahwa saya terlalu banyak pilih-pilih hingga tuduhan bahwa saya kurang berdoa.

Ya, memang keduanya benar. Yang pertama jelas benar karena saya tahu nilai diri saya dan saya tidak akan sembarangan mengawini laki-laki manapun. Yang kedua juga benar karena selama ini toh menikah bukan tujuan hidup saya sehingga sejujurnya saya tidak mendoakannya, setidaknya tidak secara rutin seperti halnya saya mendoakan keluarga, pekerjaan, dan panggilan saya.

Sebenarnya opini-opini tersebut tidaklah penting. Ada satu hal yang menurut saya lebih penting untuk saya kemukakan hingga saya menuliskan blog ini, yaitu dukungan gereja.

Saya merasa kami, para perempuan lajang yang berusia di atas 30 tahun, tidak memiliki tempat di gereja. Pengkategorian usia dari komisi sekolah minggu, remaja, pemuda, berlanjut ke komisi dewasa yang dibagi ke dalam pasutri, wanita, pria, kemudian lanjut usia. Walau secara teori usia pemuda dan dewasa saling overlap, dan komisi wanita dapat juga berisi wanita lajang, tetapi toh hal ini diamini oleh Hamba Tuhan sekalipun, bahwa perempuan lajang usia 30-40an tidak memiliki tempat di dalam gereja.

Kesedihan saya tidak mau saya bawa berlarut-larut karena saya bukan tipe orang yang mengasihani diri sendiri. Saya kemudian mencoba untuk masuk ke bidang-bidang lain di mana mungkin. Saya ikut Pemahaman Alkitab, Persekutuan Wilayah, dan berusaha untuk membantu di satu-dua bidang lain meskipun belum terwujud.

Kerinduan saya adalah untuk bertumbuh dan melayani Tuhan, dan hal itu akan saya lakukan apapun kendalanya. Tetapi mungkin tidak demikian dengan perempuan lainnya. Mereka yang tidak dirangkul, tidak diberi ruang untuk bersama dengan perempuan lajang yang seusia lainnya, mungkin tidak akan bertahan sehingga gereja bisa kehilangan jiwa-jiwa berharga ini.

Saya rindu agar kami punya tempat di mana kami dapat dimuridkan. Bukan untuk dikasihani tetapi untuk didukung agar berkarya dan menjadi produktif di dalam Tuhan.

Dulu saya berpikir bahwa menjadi perempuan tua dan tidak menikah itu cenderung pahit. Tetapi setelah saya mengenal beberapa teladan yang luar biasa, seperti salah satunya Ibu Rahmiati Tanudjaja, saya sadar bahwa Tuhan dapat menjadikan hidup kita berbuah lebat meskipun kita melajang. Malahan saya merasa kesulitan mencari seseorang yang bisa dibandingkan dengan beliau.

Bila Anda adalah Hamba Tuhan, majelis, atau aktivis yang berpengaruh di gereja, rangkul jemaat-jemaat perempuan yang lajang di gereja lokal Anda dan ajak mereka berpartisipasi dalam pelayanan. Sediakan juga ruang untuk mereka bersekutu bersama dan muridkan mereka.

Bila Anda adalah perempuan lajang yang mencintai Tuhan, ayo kita sama-sama membuat komunitas di kalangan gereja lokal kita dan saling menguatkan satu sama lain. Jangan bergantung pada gereja dan Hamba Tuhan di tempat Anda untuk bisa bersekutu dan melayani Tuhan dengan talenta kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s