FAQ: Bolehkah aku berciuman dengan pacarku?

Dalam 2 bulan terakhir saya memuridkan beberapa anak perempuan berusia 22-24 tahun, saya mendapati ada beberapa pertanyaan sederhana yang menarik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menarik justru karena kesederhanaannya dan saya sadar betapa jauhnya diri kita ini (yaitu orang-orang yang mengaku Kristen dan telah menjadi Kristen seumur hidup) dari pengenalan akan Tuhan.

Saya terdorong untuk mulai menuliskan beberapa pertanyaan-pertanyaan ini di blog saya yang akan saya terbitkan dari waktu ke waktu (semoga Tuhan menolong saya).

Saya belajar dari Ibu Rahmiati Tanudjaja bahwa pengajar yang baik menyampaikan sebuah pesan yang terus menerus diulang. Proses pemuridan ini membuat saya menyadari bahwa hal itu benar dan pesan yang terus menerus saya sampaikan pada ketiga anak saya adalah ‘Fokus pada Tuhan’.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan ini: “Ci, boleh ngga sih aku ciuman sama pacarku? Dan sampai mana batasnya?” Sebuah pertanyaan sederhana yang sulit dijawab.

Sewaktu saya kecil, yang ada di ingatan saya, orangtua kami adalah dua orang yang sangat tegas dan keras dalam mendidik anak-anak mereka. Seringkali saya diberitahu untuk tidak melakukan sesuatu yang menurut mereka salah atau tidak pantas. Ketika itu, saya menjadi anak yang memberontak. Saat masa kuliah, ketika saya sudah lebih ‘bebas’ saya seringkali menginap, tidak pulang, dan menghabiskan waktu-waktu saya sibuk dengan kegiatan kampus karena saya menganggap diri saya ini sudah ‘terkekang’ sejak kecil dan ini adalah saatnya ‘bebas’.

Seiring dengan pendewasaan diri saya, saya mulai menahan diri. Saya mengerti bahwa mereka menyayangi saya dan ada alasan di balik segala didikan mereka yang saat itu belum saya pahami. Orangtua saya hampir tidak pernah melarang atau membatasi saya setelah saya bekerja dan memiliki penghasilan saya sendiri. Pengenalan akan kehendak kedua orangtua saya terhadap diri sayalah yang mendisiplinkan diri saya ketika kata-kata larangan tidak lagi diucapkan karena mereka menganggap saya telah dewasa.

Jawaban saya atas pertanyaan di atas adalah bahwa saya tidak dapat menjawabnya untuk dia. Saya tidak tahu-menahu tentang detil hubungan mereka dan sudah sejauh mana sehingga dapat dikatakan ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’. Saya paham betul apa yang dia alami karena saya pun telah melaluinya dan pernah gagal. Satu hal yang pasti, yaitu apabila hubungan kita akrab dengan Allah, kita akan tahu kehendak-Nya, seperti halnya kita akan tahu apakah ayah kita akan marah kalau tahu kita pulang malam (atau pagi), atau apakah ibu kita sedih bila kita melupakan ulang tahunnya. Selain itu Tuhan tidak ingin kita melakukan sesuatu sekadar karena hal itu dilarang oleh-Nya tapi karena kita mengasihi Dia dan kita tidak ingin mengecewakan-Nya.

Jawaban saya terhadap setiap pertanyaan mungkin akan sama, yaitu fokuslah pada Tuhan dan jalin hubungan dengan-Nya. Ia berjanji Ia akan dapat ditemukan bila kita sungguh-sungguh mencari-Nya dengan segenap hati (Yer 29:13). Ada 5 hal yang saya selalu katakan lagi dan lagi, yaitu berdoa, baca Alkitab, baca buku, ikut seminar, dan dengar kotbah di YouTube atau podcast.

Relasi kita dengan Allah membantu kita mengetahui apa kehendak-Nya di hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s